MALANG – Fenomena yang dikenal sebagai musim bediding, di mana saat siang terik namun malam sangat dingin, sering membuat tubuh kewalahan beradaptasi.
Fenomena yang kerap muncul pada puncak musim kemarau (biasanya Juni–Agustus) ini terjadi karena udara kering dan minim awan yang menahan panas, sehingga suhu malam turun tajam.
Kondisi itu bukan sekadar bikin tidak nyaman; menurut Dr. dr. Dhelya Widasmara, Sp.DVE, Subsp. DT, MMRS, perubahan cepat suhu dan kelembapan dapat menantang sistem imun tubuh.
Menurut dokter spesialis Dermatologi, Venereologi dan Estetika yang berpraktik di Malang ini, perbedaan suhu yang ekstrem dalam satu hari membuat tubuh bekerja ekstra untuk menyesuaikan diri.
“Udara kering juga mengurangi kelembapan saluran napas sehingga lapisan pelindung jadi lebih rentan terhadap partikel dan mikroba,” kata Dr. Dhelya.
“Itu mengapa menjaga imunitas selama musim bediding perlu dilakukan secara terpadu — dari dalam dan luar tubuh,” imbuhnya.
Pertahanan dari Dalam
Hidrasi, Nutrisi dan Pilihan Makanan
- Minum minimal 2 liter air setiap hari: Hidrasi menjaga kelembapan saluran napas dan membantu fungsi sel imun.
- Perbanyak asupan vitamin C melalui buah seperti jambu biji, jeruk, dan kiwi atau suplemen bila perlu. Vitamin C membantu meningkatkan respons imun tubuh.
- Pilih makanan bergizi seimbang yang hangat dan berkuah (sup ayam, soto, bubur). Makanan hangat lebih nyaman dicerna dan membantu menjaga suhu tubuh saat malam dingin.
“Menu hangat dan bergizi tidak hanya menghangatkan, tetapi juga memberikan zat gizi penting untuk pemulihan sel dan menjaga fungsi imun,” ujar Dr. Dhelya.
Perlindungan dari Luar
Pakaian, Masker dan Perawatan Kulit
- Kenakan pakaian hangat saat malam, termasuk jaket dan kaus kaki, untuk mengurangi kehilangan panas tubuh.
- Gunakan masker saat beraktivitas di luar rumah. Udara kemarau membawa lebih banyak debu dan partikel kering yang bisa mengiritasi saluran napas.
- Jaga kelembapan kulit dengan pelembap. Udara kering sering membuat kulit kasar, retak, dan lebih rentan iritasi.
“Menjaga skin barrier itu penting. Kulit yang sehat adalah garis pertahanan pertama terhadap iritasi dan infeksi sekunder,” tambah Dr. Dhelya.
Pola Hidup Sehat
Tidur, Aktivitas, dan Kebersihan
- Tidur 7–8 jam setiap malam. Tidur cukup memberi waktu bagi tubuh melakukan proses pemulihan dan produksi komponen imun.
- Tetap aktif bergerak : jalan kaki, peregangan, atau olahraga singkat 15–30 menit sehari membantu sirkulasi darah dan kerja sel imun.
- Rajin cuci tangan, terutama sebelum makan dan setelah beraktivitas di luar rumah, untuk meminimalkan masuknya kuman ke tubuh.
“Banyak orang menunggu tanda-tanda lelah baru peduli kesehatan. Padahal pencegahan lebih efektif. Kebiasaan sederhana seperti tidur teratur dan cuci tangan membawa dampak besar pada ketahanan tubuh,” jelas Dr. Dhelya.
Catatan Penting: Musim Bediding Normal, Tapi Perlu Antisipasi
Musim bediding adalah fenomena alam yang wajar, namun adaptasi tubuh perlu didukung langkah-langkah praktis agar imunitas tetap prima.
Dan dr Dhelya menekankan pentingnya kombinasi upaya: nutrisi, perlindungan dari luar, dan pola hidup sehat.
“Musim ini tidak harus jadi alasan untuk sakit. Dengan kebiasaan sehat yang konsisten, kita bisa tetap produktif dan menjalani aktivitas tanpa terganggu penyakit ringan seperti batuk atau pilek,” tutupnya.
Ringkasan Tips Praktis dari Dr. Dhelya
- Penuhi kebutuhan air minimal 2 liter per hari
- Perbanyak asupan vitamin C
- Pilih makanan bergizi seimbang yang hangat dan berkuah
- Gunakan pakaian hangat
- Gunakan masker saat beraktivitas di luar rumah
- Jaga kelembapan kulit dengan pelembap
- Tidur cukup setiap malam (7–8 jam)
- Tetap aktif bergerak (15–30 menit/hari)
- Rutin menjaga kebersihan tangan
Dr dr Dhelya Widasmara, Sp.DVE, Subsp. DT, MMRS adalah dokter spesialis Dermatologi, Venereologi, dan Estetika yang berpraktik di Malang.
dr Dhelya aktif mengedukasi masyarakat tentang kesehatan kulit dan promosi gaya hidup sehat sebagai bagian dari pendekatan holistik kesehatan kulit. (*)
Sumber: TIMES Indonesia