MALANG Kulit wajah berminyak sering dianggap tidak memerlukan pelembab karena telah menghasilkan minyak dalam jumlah yang cukup. Namun, pandangan tersebut tidak tepat.

Minyak dan kelembapan merupakan dua hal yang berbeda. Minyak berasal dari sebum yang diproduksi kelenjar sebasea, sedangkan kelembapan berkaitan dengan kadar air yang dipertahankan oleh lapisan kulit.

Penelitian dermatologi menunjukkan bahwa kulit berminyak tetap memerlukan pelembab untuk menjaga fungsi sawar kulit (skin barrier). Sawar kulit yang sehat membantu mencegah kehilangan air berlebihan, melindungi kulit dari iritan, serta mempertahankan keseimbangan kulit.

Ketika kulit mengalami kekurangan air, tubuh dapat merespons dengan meningkatkan produksi minyak. Akibatnya, kulit dapat tampak semakin berminyak walaupun sebenarnya mengalami dehidrasi.

Kondisi ini dapat menyebabkan rasa tidak nyaman, kulit terasa tertarik, kemerahan, atau lebih mudah mengalami iritasi.

Penggunaan pelembab juga penting bagi individu yang menggunakan bahan aktif seperti retinoid, benzoil peroksida, asam salisilat, atau bahan eksfoliasi lainnya.

Bahan-bahan tersebut bermanfaat untuk mengatasi jerawat dan berbagai masalah kulit, tetapi dapat menyebabkan kekeringan dan gangguan sawar kulit apabila tidak diimbangi dengan pelembab yang sesuai.

Bagi pemilik kulit berminyak, pelembab dengan tekstur ringan seperti gel atau lotion umumnya lebih nyaman digunakan.

Kandungan seperti gliserin, asam hialuronat, panthenol, dan ceramide dapat membantu mempertahankan hidrasi kulit tanpa memberikan kesan berat.

Pemilihan produk nonkomedogenik juga dapat membantu mengurangi risiko penyumbatan pori.

Pesan Dokter Dhelya:

Kulit wajah berminyak tetap membutuhkan pelembab.

Penggunaan pelembab yang tepat dapat membantu menjaga kesehatan sawar kulit, mengurangi iritasi, serta mendukung keseimbangan kulit secara keseluruhan. (*)

Sumber: TIMES Indonesia

 

Leave a comment